Menurut Anies, tarawih bagi anak laki-laki kala itu, sering dipenuhi dengan canda gurau. Bagi mereka, apapun yang mereka hadapi adalah bagian dari permainan. Hal itulah yang menjadikan Anies teringat masa kecilnya.
"Itu semua mengingatkan atas masa kecil kita dulu. Segalanya adalah bermain. Hanya di bulan puasa juga, kita dulu bisa dapat izin, main di malam hari," ucap Anies.
Tidak hanya itu, karakteristik anak kala itu, tak bisa diduga. "Misalnya, jika anak-anak hapal bacaan imamnya, maka beramai-ramai ikut melafalkan dengan lantang. Seakan mau mengambarkan pada semua bahwa mereka juga hapal," jelasnya.
"Imamnya kolektif. Anak-anak memang unik: posisi makmum tapi semangatnya imam," tutur Anies.
Anies menambahkan, jika berbicara anak-anak, tentu lekat dengan suara celotehan, khususnya pada saat imam mengumandangkan surat pendek saat menggelar tarawih.