Hu Xijin, mantan pemimpin redaksi media pemerintah Global Times, dalam komentarnya di Weibo, merendahkan Vance dengan menyebutnya orang desa yang tak memiliki pandangan.
"Banyak orang mendesak dia untuk datang sendiri dan melihat China," kata Hu.
“Lihat, ini wajah mereka yang sebenarnya, arogan dan kasar,” demikian komentar netizen lainnya.
“Kita mungkin buruh tani, tapi punya sistem kereta api berkecepatan tinggi terbaik di dunia, kemampuan logistik terhebat, dan teknologi AI (kecerdasan buatan), mengemudi (mobil) otonom," kata pengguna Weibo lainnya.
Pengguna lain menyebut komentar Vance itu sebuah ironi mengingat pendidikannya sebagai pekerja kelas atas, sebagaimana disebutkan dalam buku memoarnya yang rilis pada 2016 “Hillbilly Elegy.”
Dalam buku tersebut, Vance mengisahkan masa kecilnya yang dirundung kemiskinan, pelecehan, serta ibunya yang kecanduan narkoba. Dia dibesarkan di Appalachia, wilayah terpencil di AS yang menurutnya telah dilupakan oleh kaum elite kaya.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis pekan lalu, Vance membela penerapan tarif yang diterapkan Presiden Donald Trump, termasuk terhadap China.
"Apa yang didapat ekonomi globalis bagi Amerika Serikat? Jawabannya adalah, pada dasarnya, ekonomi globalis didasarkan pada dua prinsip, menanggung utang besar demi membeli barang-barang yang dibuat oleh negara lain. Untuk membuatnya sedikit lebih jelas, kita meminjam uang dari buruh tani China untuk membeli barang-barang yang diproduksi oleh mereka," ujar Vance.