Menurut Ghalibaf, negara-negara mediator terus berupaya mempertemukan kedua delegasi dalam diskusi langsung. Namun Iran menegaskan hanya bersedia terlibat dalam negosiasi melalui mediator, bukan pembicaraan tatap muka dengan pihak AS.
Situasi berubah ketika Ghalibaf mengetahui Trump mengunggah pernyataan bernada ancaman di media sosial saat proses perundingan masih berlangsung.
"Di tengah pembicaraan, saya menyadari Trump mengeluarkan ancaman terhadap Presiden (Masoud Pezeshkian), tim negosiasi, serta akan menyerang wilayah kami," katanya.
Ghalibaf kemudian menyampaikan protes langsung kepada Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin tim perunding Washington. Dia menegaskan ancaman tersebut bertentangan dengan klausul pertama MoU perdamaian yang melarang penggunaan ancaman maupun kekerasan.
"Saya memberi tahu Vance bahwa kami berada di sini untuk bernegosiasi, bahwa klausul pertama dari MoU yang ditandatangani melarang ancaman dan penggunaan kekerasan. Namun presiden Anda mengeluarkan ancaman hari ini," ujarnya.
Tak lama setelah itu, delegasi Iran memutuskan mengakhiri pertemuan dan meninggalkan lokasi perundingan. Mereka tidak kembali ke meja negosiasi meskipun pihak AS berusaha menggelar pertemuan lanjutan melalui mediator.