Setelah itu Xu meminta anak tersebut untuk menemuinya di ruang kerja. Di ruangan itu Xu memerintahkannya untuk melepas pakaian untuk berhubungan seks. Dia menolak, namun tak berdaya. Mereka melakukan hubungan layaknya suami istri tanpa pengaman, sementara pintu dikunci dan jendela ditutup.
Mereka melakukan hubungan serupa sepekan kemudian juga di ruang guru tersebut.
Dalam pengakuan polosnya kepada jaksa, anak tersebut merasa janggal berhubungan badan dengan gurunya namun kelamaan merasa senang.
Kasus ini terungkap pada September 2020 saat ayah korban mulai curiga dengan kedekatan putranya dengan Xu. Dia lalu melapor polisi. Saat laporan polisi dibuat, bocah tersebut sudah duduk di bangku SMP.
Setelah kejadian itu Xu diskors oleh sekolahnya.
Sementara itu dalam pembelaan, Xu mengatakan kepada jaksa dirinya hanya sekali melakukan hubungan seksual dengan anak tersebut. Xu juga mengaku dipaksa berhubungan seks dengan muridnya itu yang memiliki tubuh lebih tinggi darinya.
“Saya didorong ke lantai dan kepala saya terbentur. Pada satu titik saya kehilangan kesadaran. Saya tidak tahu apa yang terjadi saat itu, tapi saya merasa lumpuh. Ketika saya bangun, tubuh bagian bawah saya terasa sakit dan berdarah," kata Xu, seperti dilaporkan kembali The Straits Times.
Dia menambahkan, momen tersebut merupakan satu-satunya mereka berhubungan seks. Setelah itu Xi dinyatakan hamil. Dia juga menuduh anak itu mengarang soal hubungan seksual berikutnya.
Namun hakim pengadilan distrik menegaskan dalam putusannya, Xu memanfaatkan muridnya untuk memenuhi hasrat dan memaksanya melakukan aktivitas seksual tidak senonoh. Dia memanfaatkan keluguan bocah itu tentang hubungan romantis dan seksual.