Kejadian itu disaksikan oleh belasan tetangga, setidaknya dua orang merekamnya menggunakan kamera telepon seluler.
Sebelum melarikan diri, Jonel kembali menembak kepala Sonya yang sudah tergeletak di lantai.
Pembunuhan brutal ini memicu gelombang kemarahan kepada pemerintah, terutama Duterte. Dia menjadi sasaran karena dilambangkan sebagai sosok yang membuat polisi menjadi keras, mengacu pada kampanye perang terhadap kejahatan narkoba yang telah menewaskan setidaknya 8.000 orang tanpa melalui pengadilan.
Namun dalam komentarnya Duterte menegaskan Jonel sudah melampaui batas.
"Anda tidak menaati hukum, Anda membunuh. Ini bukan bagian dari kesepakatan tentang bagaimana kita melakukan tugas. Kurung dia dan jangan biarkan keluar," kata Duterte.
Dia menggambarkan apa yang dilakukan Jonel sebagai penyimpangan.
"Ada yang salah di kepalanya," tutur Duterte.