Alasannya, kata pria yang juga anggota parlemen Majelis Nasional itu, krisis keuangan dan pangan Korut sebagian besar bisa ditangani oleh kompensasi yang diberikan Rusia.
Wi melanjutkan, jika ada 10.000 prajurit Korut yang dikirim ke Rusia, berarti ada pendapatan tahunan lebih dari 200 juta dolar AS.
Selain tentara, saat ini ada sekitar 4.000 warga Korut yang bekerja di Rusia dengan upah rata-rata sekitar 800 dolar AS per bulan.
Di bidang pangan, lanjut Wi, setiap tahun Korut memproduksi rata-rata 4 juta ton biji-bijian, termasuk beras dan gandum. Namun kenyataanya, produksi beras negara itu kalah dengan kentang. Beras diperkirakan menghasilkan kurang dari sepertiga dari total panen bahan pangan utama. Oleh karena itu Korut mengalami kekurangan beras.
“4 juta ton biji-bijian yang menurut Korea Utara diproduksi setiap tahun, kurang 1 juta ton dari yang dibutuhkan untuk memberi makan penduduk negara itu. Jika Rusia menawarkan 600.000 hingga 700.000 ton, itu cukup untuk memenuhi lebih dari setengah dari apa yang dibutuhkan Korut untuk memenuhi permintaan tahunan,” kata Wi.