Taliban Kembali Berkuasa, Kaum LGBT di Afghanistan Kelimpungan

Ahmad Islamy Jamil
Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, kini berada di bawah kendali Taliban, setelah negara-negara Barat merampungkan proses evakuasi di sana akhir Agustus lalu. (Foto: Reuters)

Kanada sebelumnya telah berjanji untuk memukimkan kembali 20.000 warga Afghanistan, dan secara eksplisit memasukkan orang-orang LGBT di dalam komitmennya. Untuk masalah seperti ini, Kanada memang beda sendiri jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Media Irlandia melaporkan bahwa orang-orang LGBT juga akan termasuk di antara 150 pengungsi Afghanistan yang dibawa ke negara itu. Namun, saat ditanyai tentang hal itu, Kementerian Luar Negeri Irlandia tidak menanggapi permintaan komentar dari wartawan.

Sementara, di negara-negara demokrasi Barat lainnya, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, tidak ada kejelasan jaminan seperti yang disampaikan Kanada.

Pada Senin (16/8/2021), atau sehari setelah Kabul jatuh ke tangan Taliban, Presiden AS Joe Biden menulis memo yang isinya perintah untuk memberikan dana 500 juta dolar AS untuk para pengungsi Afghanistan. Dana itu mencakup kebutuhan mendesak tak terduga, serta kebutuhan selama proses migrasi para pengungsi, korban konflik, dan orang lain yang berisiko dalam konflik di Afghanistan.

Pada Selasa (17/8/2021), Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, mengatakan kepada wartawan bahwa Washington DC akan menjamin keselamatan warga Afghanistan yang rentan, tapi tanpa memerinci siapa saja. Saat ditanya apakah jaminan itu juga mencakup para LGBT Afghanistan, Deplu AS menolak berkomentar.

Adapun Inggris, menyatakan akan menyambut hingga 5.000 warga Afghanistan di bawah program pemukiman kembali pada tahun pertama. Dalam program tersebut, London akan memprioritaskan kaum perempuan, anak perempuan, dan kelompok minoritas. Namun, LGBT Afghanistan tidak disebutkan dalam komitmen tersebut. Saat ditanya soal itu, Pemerintah Inggris tidak menanggapi permintaan komentar dari wartawan.

Lain halnya dengan Turki. Negara itu tidak mau menjadi tempat penampungan pengungsi Afghanistan. Turki malah memperkuat tembok perbatasannya dengan Iran, yang bertetangga dengan Afghanistan. Ankara secara tegas mengatakan, langka itu untuk mencegah masuknya migran dari Afghanistan.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Iran Klaim Tembakkan Rudal dan Drone, Paksa Kapal Perang AS Mundur dari Teluk Oman

57 tahun lalu

Melunak, Trump Tiba-Tiba Bilang Ingin Bertemu Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei

57 tahun lalu

Trump Jagokan Wapres JD Vance-Menlu Rubio Maju Pilpres AS 2028: Mereka Tak Terkalahkan!

57 tahun lalu

DPR AS Sahkan Resolusi Batasi Wewenang Trump dalam Perang Iran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal