Pertanyaan itu kontras dengan yang disampaikannya pada Maret lalu. Saat ditanya apakah invasi Rusia ke Ukraina bisa memengaruhi pembelian, Lorenzana menegaskan tak ada perubahan rencana.
"Kami tidak melihat kemungkinan, itu (pembelian) akan dibatalkan pada saat ini. Hanya waktu yang bisa menjawab," ujarnya, pada Maret.
Dia juga mengatakan saat itu, pembayaran awal telah dilakukan pada Januari 2022. Tidak jelas status pembayaran itu setelah kesepakatan dibatalkan sepihak.
Hal senada disampaikan Duta Besar (Dubes) Filipina untuk AS Jose Manuel Romualdez. Dia menjelaskan kesepakatan itu dibatalkan karena Filipina bisa menghadapi sanksi di bawah Undang-Undang Melawan Musuh Amerika melalui Sanksi.
Sementara itu seorang pejabat militer Filipina mengatakan, kesepakatan akan dihentikan dengan membuat surat keputusan pembatalan, mengingat kontrak sudah ditandatangani. Rusia masih bisa mengajukan banding, namun kecil kemungkinan Filipina berubah pikiran.
Dalam perjanjian yang diteken pada November 2021, batch pertama helikopter Mi-17 dijadwalkan dikirim oleh produsen, Sovtechnoexport, sekitar 2 tahun.
Helikopter Mi-17 dirancang multiperan, bisa digunakan untuk pertempuran, operasi SAR, dan evakuasi medis. Filipina sagngat membutuhkan helikopter angkut berbadan besar karena sering dilanda topan dan bencana alam lain.