JAKARTA, iNews.id - Iran diguncang demonstrasi besar dan berdarah sejak akhir Desember 2025, beberapa laporan menyebutkan telah merenggut ratusan nyawa. Demonstrasi pecah bermula di Teheran, diwarnai dengan aksi mogok para pemilik toko, dipicu anjloknya nilai tukar rial terhadap dolar AS.
Gelombang demonstrasi yang sedang terjadi di Iran mencuatkan satu nama di tengah kerumunan massa dan slogan anti-pemerintah, Reza Pahlevi. Kini, dia dikaitkan erat dengan aksi protes yang menentang pemerintahan Republik Islam Iran.
Latar Belakang Singkat Reza Pahlevi
Reza Pahlevi lahir pada 31 Oktober 1960 di Tehran sebagai putra tertua dari Shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlevi, yang digulingkan dalam Revolusi Iran 1979. Pada waktu itu, sistem monarki yang dipimpin keluarganya runtuh dan digantikan oleh pemerintahan teokratis di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini. Pahlevi dan keluarganya kemudian menjalani hidup dalam pengasingan selama hampir lima dekade.
Sebagai anggota dinasti Pahlevi, dia diangkat sebagai putra mahkota dan menduduki gelar Crown Prince, namun setelah revolusi, ia hidup sebagai tokoh oposisi di luar negeri, terutama di Amerika Serikat, tempat dia menetap dan aktif menyuarakan kritik terhadap rezim di Iran.
Perannya dalam Demonstrasi 2025-2026
Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Iran dipicu awalnya oleh krisis ekonomi, termasuk inflasi tinggi, melemahnya mata uang nasional, serta harga kebutuhan pokok yang meroket. Ketidakpuasan ini kemudian berkembang menjadi tuntutan lebih luas termasuk perubahan sistem politik, dan kini sesekali disertai dengan slogan yang menyebut nama Pahlevi atau bahkan dukungan simbolis terhadap digantikannya rezim dengan bentuk pemerintahan lain.