“Federasi Rusia akan melakukan segalanya untuk melindungi warganya dan menjaga keseimbangan strategis global,” kata Volodin.
Meskipun Rusia mencabut ratifikasinya, Rusia akan tetap menjadi penandatangan dan akan terus bekerja sama dengan organisasi perjanjian larangan uji coba dan sistem pemantauan global yang memperingatkan dunia akan adanya uji coba apa pun terkait senjata nuklir.
Dimulainya kembali uji coba nuklir oleh Rusia, Amerika Serikat, ataupun China dapat mengindikasikan dimulainya perlombaan senjata nuklir baru antara negara-negara besar yang menghentikan uji coba nuklir bertahun-tahun pascaruntuhnya Uni Soviet pada 1991.
Bagi banyak ilmuwan dan aktivis, banyaknya uji coba bom nuklir selama Perang Dingin menunjukkan kebodohan dari tindakan ambang batas nuklir yang pada akhirnya dapat menghancurkan umat manusia dan mencemari planet ini selama ratusan ribu tahun.
Akan tetapi, konflik di Ukraina telah meningkatkan ketegangan antara Moskow dan Washington DC ke tingkat tertinggi sejak Krisis Rudal Kuba 1962. Sementara Beijing berupaya untuk meningkatkan persenjataan nuklirnya agar sesuai dengan status China sebagai negara adidaya yang sedang berkembang.