Revisi UU Disetujui, Warga China Boleh Punya 3 Anak

Ahmad Islamy Jamil
Kelahiran di China sepanjang tahun lalu turun dibandingkan dengan 2019 (ilustrasi). (Foto: Ist.)

China telah lama menggembar-gemborkan kebijakan satu anaknya sebagai keberhasilan dalam mencegah 400 juta kelahiran tambahan di negara terpadat di dunia itu, sehingga menghemat sumber daya dan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, tingkat kelahiran China—yang sejajar dengan tren di Korea Selatan, Thailand, dan ekonomi Asia lainnya—sebenarnya sudah turun juga sebelum aturan satu anak diterapkan. Rata-rata jumlah anak per ibu di China turun dari di atas enam orang pada 1960-an menjadi di bawah tiga orang pada 1980, menurut Bank Dunia.

Sementara itu, jumlah penduduk usia kerja di China menurun selama dekade terakhir dan populasinya hampir tidak tumbuh. Kondisi itu menambah ketegangan di tengah masyarakat yang kian menua. 

Sensus yang diadakan pemerintah setiap dasawarsa menemukan bahwa populasi China meningkat menjadi 1,411 miliar jiwa pada tahun lalu, atau naik sebanyak 72 juta jiwa dari 2010. Statistik juga menunjukkan, 12 juta bayi lahir di China sepanjang tahun lalu, turun sebesar 18 persen dari 2019 yang jumlah kelahirannya mencapai 14,6 juta bayi.

Warga China berusa di atas 60 tahun berjumlah 264 juta jiwa, atau sekira 18,7 persen dari total penduduk negara itu pada 2020. Angka itu 5,44 persen lebih tinggi daripada 2010. Pada saat yang sama, penduduk usia kerja di Tiongkok turun menjadi 63,3 persen dari total dari 70,1 persen sepuluh tahun yang lalu.

Perubahan aturan dari satu anak menjadi dua anak hanya menyebabkan lonjakan sementara dalam jumlah kelahiran di China. Efek dari kebijakan itu mereda dengan cepat. Bahkan, jumlah kelahiran di negara itu terus menurun karena banyaknya perempuan yang terus memutuskan untuk tidak berkeluarga.

Jepang, Jerman, dan beberapa negara kaya lainnya juga menghadapi tantangan yang sama dengan China karena mereka memiliki lebih sedikit pekerja untuk mendukung populasi yang kian menua. Bedanya, negara-negara maju itu dapat memanfaatkan hasil yang mereka petik dari investasi di pabrik-pabrik, teknologi, dan aset asing. Sementara, China adalah negara berpenghasilan menengah dengan sektor pertanian dan manufaktur padat karya menjadi penopang utama.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
57 tahun lalu

China Lirik Proyek Penyimpanan Listrik PLTS 100 GW Milik RI 

57 tahun lalu

China Bangun 43.000 Pabrik Pintar, AI Jadi Syarat Wajib Industri Manufaktur

57 tahun lalu

Kabar Duka, Aktor Dracin Jin Ze Meninggal Dunia di Usia 33 Tahun

57 tahun lalu

Mensesneg Tegaskan Fundamental Ekonomi RI Kuat, Optimistis Pertumbuhan Tetap Terjaga

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal