Pada saat naik takhta, hanya 45 persen warga Denmark yang mendukung sistem monarki. Masyarakat berpandangan sistem monarki tidak memiliki tempat dalam demokrasi modern. Namun, selama pemerintahannya, Ratu Margrethe II bisa terhindar dari skandal bahkan berperan dalam memodernisasi institusi kerajaan. Sebagai contoh, dia merestui kedua putranya menikah dengan rakyat jelata.
Berkat usahanya itu, monarki Denmark menjadi salah satu yang paling populer di dunia karena mendapat dukungan dari 80 persen lebih warga Denmark.
Setelah Margrethe II, pemimpin monarki terlama lainnya di Eropa adalah Raja Carl XVI Gustaf dari Swedia yang telah berkuasa selama 48 tahun.
Ratu Margrethe lahir di Kopenhagen pada 16 April 1940, sepekan setelah invasi Nazi Jerman ke Denmark. Dia merupakan anak tertua dari tiga bersaudara, namun saat itu hukum suksesi Denmark melarang perempuan menjadi pewaris takhta. Denmark mengubah undang-undang tersebut pada 1953 setelah melalui referendum.
"Dia telah berhasil menjadi ratu yang menyatukan bangsa Denmark di masa perubahan besar: globalisasi, munculnya negara multikultural, krisis ekonomi pada 1970-an, 1980-an, dan pada 2008 sampai 2015, hingga pandemi," kata sejarawan Lars Hovebakke Sorensen, dikutip dari AFP.