Dikenal sebagai sosok yang sangat menggemari sepak bola, Srettha meraih gelar sarjananya di Universitas Chulalongkorn, Bangkok. Untuk gelar magister, Srettha mendapatkannya dari Claremont Graduate School Amerika Serikat dengan fokus studi administrasi bisnis.
Srettha muda mengawali karier dengan menjadi asisten manajer di perusahaan multinasional Protect & Gamble (P&G) di Thailand. Pada 1988, dia ikut mendirikan dan mengembangkan Sansiri.
Memiliki latar belakang pebisnis, keputusannya terjun ke dunia politik ternyata tak sia-sia. Srettha memenangkan hati banyak anggota komunitas bisnis. Hal tersebut dibuktikan dari hasil survei yang dilakukan oleh surat kabar Krungthep Turakij, yang menyatakan bahwa 66 persen CEO bisnis di Thailand menjadikan Srettha sebagai pilihan utama.
Selama masa kampanye, Srettha berjanji akan memberikan keadilan sosial, memaksimalkan stimulus ekonomi, dan memberikan bentuk pemerintahan yang baik kepada warganya. Dalam 100 hari pertama masa kepemimpinannya, Srettha fokus untuk menggenjot taraf hidup masyarakat, menangani tingginya biaya hidup, mengakhiri wajib militer, dan memastikan adanya kesetaraan pernikahan bagi pasangan sesama jenis.
Srettha juga menawarkan bantuan sebesar 10.000 baht atau 295 dolar AS bagi pemuda yang berusia 16 tahun ke atas. Bantuan tersebut akan disalurkan melalui dompet digital dan bisa digunakan untuk pengembangan komunitas.