Dia juga sependapat dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Pezeshkian menegaskan pengayaan uranium di negaranya akan berlanjut untuk tujuan sipil dan energi, bukan militer.
Iran, lanjut Pezeshkian, akan melanjutkan program nuklirnya dalam kerangka hukum internasional, sehingga tidak akan menoleransi ancaman apa pun terhadap program nuklir damainya.
Israel melancarkan operasi terhadap Iran pada 13 Juni atas tuduhan melaksanakan program nuklir militer rahasia. Iran membantah tuduhan seraya membalas serangan tersebut.
Di tengah pertempuran itu, AS ikut serta dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Perang berlangsung selama 12 hari setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang dimediasi AS dan Qatar pada 24 Juni. Namun sehari sebelumnya, Iran sempat membalas AS dengan menyerang pangkalan militernya di Qatar.
Iran membantah adanya dimensi militer dalam program nuklir. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga belum melihat bukti konkret Iran memiliki program senjata nuklir yang aktif.