Dukungan dari dalam negeri kepada pemerintah bahwa para imigran perlu menerapkan nilai-nilai Prancis dibandingkan sebelum pembunuhan guru Samuel Paty lantaran menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya, semakin kuat.
Saat memberikan penghormatan di upacara pemakaman Paty, Macron membela sekularisme Prancis serta tabloid satir Charlie Hebdo yang menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad.
"Kami tidak akan menyerah kepada kartun," ujarnya, saat itu.
Pernyataannya itu mengundang kecaman dari komunitas muslim internasional, disertai pemboikotan produk Prancis.
Bukan hanya The New York Times, suat kabar Inggris Financial Times juga menerbitkan artikel berjudul "Perang Macron terhadap 'separatisme Islam' hanya memperparah perpecahan Prancis'.
Macron lalu mengirim surat kepada Financial Times di mana dia menyangkal stigmatisasi terhadap muslim.
"Prancis, kami diserang karena ini, merupakan (negara) sekuler bagi umat Islam, Kristen, Yahudi, Budha, dan semua keyakinan lain."
Financial Times lalu mencabut artikel itu.