Sekitar 10.000 berdemonstrasi pada Kamis malam, beberapa jam setelah pengumuman kondisi darurat.
Polisi menutup jalan dan memasang barikade di sekitar persimpangan utama Kota Bangkok di mana para pengunjuk rasa bersumpah berkumpul lagi pada Jumat malam untuk menyuarakan tuntutan utama mereka, yakni pengunduran diri Prayut. Selain itu, massa menuntut reformasi monarki dengan mengamanden undang-undang pencemaran nama baik keluarga kerajaan.
Polisi anti-huru-hara dikerahkan untuk menghalau massa, sementara mal-mal yang biasanya sibuk, tutup lebih awal. Stasiun kereta di lokasi juga ditutup untuk memutus akses transportasi ke lokasi.
Para pengunjuk rasa pun menyiapkan skenario lain yakni berkumpul di persimpangan jalan besar lainnya.
Gerakan protes diluncurkan pertama kali pada Maret oleh mahasiswa dan tuntutan awalnya adalah digelarnya pemilihan umum yang baru, perubahan konstitusi agar lebih demokratis, serta diakhirinya intimidasi terhadap aktivis.
Para pengunjuk rasa menuding Prayuth bisa kembali ke tampuk kekuasaan karena pemilu yang tak adil pada tahun lalu. Sebelumnya undang-undang telah diubah sehingga menguntungkan partai pro-militer.
Namun tuntutan gerakan massa pro-demokrasi melebar, sejak Agustus lalu mereka menyuarakan kritik yang belum pernah disampaikan sebelumnya terhadap monarki, yakni reformasi.