F-35 adalah jet tempur siluman yang memliki kemampuan mendarat di landasan pendek, termasuk secara vertikal. Jet tempur canggih pabrikan perusahaan pertahanan Amerika Serikat, Lockheed Martin, itu juga dibekali kemampuan untuk peperangan elektronik, pengumpulan data intelijen, dan misi udara ke udara secara bersamaan.
Teknologi serta penggunaan material F-35 memungkinkan pesawat tak terdeteksi di wilayah udara musuh. Begitu canggihnya jet tempur itu, sehingga membuat banyak negara ingin memilikinya, termasuk Turki dan Uni Emirat Arab (UEA).
Sayangnya, sederet insiden melibatkan pesawat itu yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, membuat reputasi F-35 layak dipertanyakan. Bahkan, UEA yang tadinya begitu berambisi untuk mendapatkan F-35, tiba-tiba ingin menangguhkan rencana pembelian 50 pesawat canggih dari AS itu.
Angkatan Laut AS pada Selasa (25/1/2022) waktu setempat atau Rabu (26/1/2022) WIB menyatakan, pihaknya sedang membuat pengaturan untuk memulihkan pesawat tempur F-35C yang jatuh ke Laut China Selatan, sehari sebelumnya.
Dalam insiden terbaru itu, tujuh personel militer AS terluka saat pesawat gagal mendarat di dek kapal induk USS Carl Vinson. Pilot pesawat itu selamat dengan menggunakan kursi pelontar.