"Dua kelompok (bersenjata) berusaha menguasai daerah itu," lanjutnya.
Polisi menduga kelompok bersenjata ingin memanfaatkan para pengungsi Rohingya sebagai komoditi perdagangan manusia serta menutupi aktifitas penjualan narkoba yang dijalankan.
Wilayah Bangladesh selatan terkenal dengan perdagangan obat-obatan terlarang seperti metamfetamin yang menguntungkan. Obat yang bisa memberikan efek halusinasi itu diproduksi wilayah di seberang perbatasan Myanmar.
Lebih dari 100 pengungsi Rohingya telah terbunuh sejak 2018 dalam insiden yang menurut kelompok hak asasi manusia adalah pembunuhan di luar hukum.
Namun, polisi mengatakan para korban terjebak dalam insiden baku tembak antara polisi dan tersangka penyelundup narkoba.
Tiga pengungsi yang tidak mau disebutkan namanya menyebut dua kelompok di balik pertempuran itu adalah geng "Munna"--mengambil nama dari seorang pengedar narkoba lokal terkenal--dan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA)--sebuah kelompok bersenjata yang memiliki pasukan di banyak kamp.