Presiden Iran juga menuding Israel menyembunyikan skala kerusakan akibat serangan-serangan balasan Iran selama konflik berlangsung. Menurut dia, hal itu menjadi bukti bahwa kekuatan militer Iran tidak bisa diremehkan.
Konflik antara Iran dan Israel meletus pada 13 Juni lalu, dipicu tuduhan bahwa Iran tengah mengembangkan program senjata nuklir secara rahasia.
Serangan dari Israel, yang juga didukung oleh Amerika Serikat, menyasar fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Iran membalas dengan serangan terhadap target-target militer Israel dan bahkan meluncurkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Qatar sehari sebelum gencatan senjata diberlakukan pada 24 Juni.
Meski konflik berhenti, Pezeshkian tidak melihat adanya jaminan bahwa perdamaian akan bertahan. Dia menyebut narasi tentang penghentian program nuklir Iran hanyalah “ilusi” seraya menegaskan pengayaan uranium akan terus berlanjut untuk tujuan damai dan energi.
“Saya sependapat dengan Presiden AS Donald Trump bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Namun, program nuklir kami murni untuk keperluan sipil dan sepenuhnya berada dalam kerangka hukum internasional,” katanya.
Iran juga menolak tuduhan bahwa program nuklirnya memiliki dimensi militer. Pernyataan ini diperkuat oleh temuan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang sejauh ini belum menemukan bukti konkret adanya pengembangan senjata nuklir aktif oleh Teheran.