Sayangnya, juru bicara junta Myanmar tidak menjawab panggilan telepon wartawan saat hendak dimintai komentarnya terkait pembantaian warga sipil ataupun pertempuran itu.
Dalam parade militer yang digelar untuk memperingati Hari Angkatan Bersenjata Myanmar, kemarin, pemimpin junta Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan, tentara akan melindungi rakyat dan memperjuangkan demokrasi. Namun ironisnya, pada hari yang sama, 114 orang di seluruh negeri itu tewas akibat tindakan keras aparat saat meredam aksi massa.
Korban tewas itu termasuk 40 orang di kota terbesar kedua Myanmar, Mandalay. Salah satu korban meninggal di kota itu adalah gadis berusia 13 tahun.
Berikutnya, paling sedikit 27 orang tewas di kota paling besar di Myanmar, Yangon. Seorang anak berusia 13 tahun lainnya juga dilaporkan tewas di wilayah Sagaing .
Kematian akibat kebrutalan aparat Myanmar juga tercatat dari wilayah Kachin di pegunungan utara Myanmar, hingga Taninthartharyi di ujung selatan Laut Andaman. Dengan begitu, jumlah keseluruhan warga sipil yang dilaporkan tewas sejak kudeta militer di Myanmar sampai hari ini sudah lebih dari 440 jiwa.