Barkat menambahkan, warga Palestina dari Tepi Barat tidak akan diizinkan bekerja di Israel lagi. Mereka, kata dia, akan digantikan oleh lebih dari 250.000 pekerja dari luar negeri.
Gerakan pejuang Palestina, Hamas, pada 7 Oktober lalu melancarkan serangan roket skala besar yang disebut “Operasi Banjir al-Aqsa” terhadap Israel dari Jalur Gaza. Mereka melepaskan tembakan ke arah militer dan warga sipil Israel. Akibatnya, lebih dari 1.200 orang di Israel terbunuh dan sekitar 240 lainnya ditawan Hamas.
Menurut Hamas, Operasi Banjir al-Aqsa adalah pembalasan atas kejahatan Israel yang membantai dan menangkapi dengan sewenang-wenang rakyat Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur.
Israel lalu melancarkan serangan balasan, memerintahkan blokade total terhadap Gaza dan melancarkan serangan darat ke daerah kantong Palestina itu dengan tujuan untuk melenyapkan Hamas dan menyelamatkan para tawanan. Sejak itu, hampir 26.000 orang telah gugur di Gaza akibat serangan Israel sampai sejauh ini.
Sebagai bentuk dukungan kepada Palestina, sejumlah gerakan pejuang bersenjata ikut melakukan serangan terhadap kepentingan Israel di Timur Tengah. Beberapa di antara mereka adalah kelompok Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Kedua kelompok itu mendapat dukungan dari Iran.