Mahathir Kecam Keras Aung San Suu Kyi dalam Tangani Krisis Rohingya

Nathania Riris Michico
PM Malaysia Mahathir Mohamad, Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte di Singapura. (Foto: AP)

Lebih dari 700.000 warga Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh akibat pembantaian di Negara Bagian Rakhine sejak Agustus 2017.

Aung San Suu Kyi menjadi pemimpin de facto pemerintahan sipil Myanmar pada 2016. Sejak saat itu, dia menghadapi tekanan internasional untuk mengecam aksi militer terhadap Rohingya.

Namun, dia terus menolaknya.

Dia juga melontarkan pembelaan ketika dua jurnalis kantor berita Reuters dipenjara lantaran tengah menyelidiki pembunuhan kaum Rohingya.

Suu Kyi terakhir kali berbicara kepada BBC pada April 2017. Saat itu dia mengomentari laporan PBB yang menyebut telah terjadi upaya genosida terhadap etnik Rohingya.

"Saya pikir pernyataan pembersihan etnik terlalu kuat untuk menggambarkan apa yang terjadi," ujarnya.

Editor : Nathania Riris Michico
Artikel Terkait
Internasional
28 hari lalu

Junta Militer Myanmar Gelar Pemilu Tahap Kedua di Tengah Perang Saudara

Internasional
1 bulan lalu

Partai Pro-Militer Unggul dalam Pemilu Myanmar Tahap Pertama, Partisipasi Pemilih Rendah

Internasional
3 bulan lalu

Absen di KTT ASEAN, PM India Modi Tak Suka Trump Singgung Pakistan

Internasional
3 bulan lalu

Terungkap! Ini Alasan PM India Modi Tak Hadiri KTT ASEAN, Ada Kaitan dengan Trump

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal