Menurutnya, pasukan itu bahkan berpotensi bertindak secara otonom tanpa koordinasi dengan otoritas Palestina, yang bisa menyebabkan konsekuensi politik serius.
“Pasukan tersebut tampaknya bisa bertindak secara otonom tanpa memperhatikan posisi maupun pendapat Ramallah,” katanya.
Moskow Sebut Mengingatkan pada Praktik Kolonial Inggris
Nebenzia menilai pola yang muncul dari resolusi itu menyerupai pendekatan kolonial masa lalu. Dia menyebut langkah itu mengingatkan pada Mandat Inggris untuk Palestina di era Liga Bangsa-Bangsa, ketika penduduk Palestina tidak dilibatkan dalam keputusan penting yang menyangkut wilayah mereka.
“Hal ini bisa memperkokoh pemisahan Jalur Gaza dari Tepi Barat. Hal ini mengingatkan pada praktik kolonial dan Mandat Inggris untuk Palestina ketika pendapat rakyat Palestina sendiri tidak diperhitungkan,” tegasnya.
Pertanyaan soal Mandat Pasukan Perdamaian
Selain soal peran Palestina, Rusia juga mempertanyakan kedalaman mandat pasukan internasional tersebut, termasuk apakah misi penegakan perdamaian berdasarkan rencana yang disebut sebagai “rencana Trump” itu dapat membuat ISF melampaui batas-batas tertentu.
Moskow memperingatkan bahwa tanpa batasan yang jelas, operasional pasukan perdamaian berpotensi berubah menjadi intervensi yang dapat memperkeruh situasi politik dan keamanan di Gaza.
Dengan kritik keras yang diarahkan kepada AS dan PBB, Rusia menegaskan bahwa solusi damai di Gaza harus melibatkan rakyat Palestina secara penuh, bukan menciptakan struktur keamanan baru yang berisiko mengulang pola kolonial masa lalu.