“Fasilitas dan pekerja kesehatan tidak boleh menjadi sasaran, terutama dalam situasi seperti ini di mana ada ribuan warga sipil yang membutuhkan akses ke perawatan darurat,” kata bos WHO itu.
“Semua pihak harus memastikan akses yang tidak terbatas dan aman ke fasilitas kesehatan bagi mereka yang terluka dan semua orang yang membutuhkan perawatan medis,” ucapnya.
Tim WHO akan terus bekerja sama dengan otoritas kesehatan Sudan untuk mencoba dan mengisi kekosongan dalam penyediaan perawatan kesehatan, terutama untuk korban luka. Ghebreyesus juga mendesak semua pihak untuk mengindahkan seruan gencatan senjata kemanusiaan dan berupaya menuju resolusi damai.
Pada Sabtu (15/4/2023) lalu, bentrokan antara Tentara Nasional Sudan dan Pasukan Sudan Cepat (RSF) pecah di Ibu Kota Khartoum.
Tentara Sudan menuduh RSF melakukan pemberontakan dan melancarkan serangan udara terhadap pangkalan militer terakhir mereka. Sementara RSF mengklaim telah menguasai istana kepresidenan di Khartoum, tetapi Tentara Sudan membantah klaim tersebut.
Panglima Angkatan Bersenjata Sudan Abdel Fattah al-Burhan mengeluarkan keputusan untuk membubarkan RSF.