"Kalau kebetulan mereka tidak punya uang, tidak apa-apa," kata, merujuk para pengunjuk rasa yang merupakan mahasiswa.
Mereka berkumpul di sekitar lokasi unjuk rasa mengenakan rompi khas oranye. Bukan hanya menawarkan jasa transportasi, mereka terkadang mengawasi para demonstran dari ancaman kekerasan pihak berwenang.
Dalam unjuk rasa sebelumnya, saat pihak berwenang mengerahkan kendaraan water cannon, para tukang ojek langsung memberikan peringatan dini dan memblokir beberapa jalan sehingga para aktivis dapat dengan aman melarikan diri dari polisi anti-huru hara.
Supatr mengatakan, dia membantu karena khawatirkan sebagian besar pengunjuk rasa masih sangat muda. Dia kagum dengan niat tulus para mahasiswa yang berkumpul secara damai untuk tujuan memperbaiki kondisi negara.
"Mereka sangat disiplin. Mereka tidak pernah melakukan hal-hal bodoh. Saya ingin semuanya aman," tuturnya.
Massa pro-demokrasi di Thailand mulanya mengusung tuntutan pengunduran diri Perdana Menteri Prayut Chan O Cha. Prayut dituduh mendapatkan posisi perdana menteri dengan cara elegan dalam pemilu tahun lalu.
Di perjalanan, tuntutan massa meluas menjadi reformasi monarki, yakni perubahan UU yang mengekang sikap kritis kepada keluarga kerajaan. Tuntutan ini terbilang tabu karena keluarga kerajaan sangat dihormati di Thailand.