GAZA, iNews.id - Seruan militer Israel agar warga Gaza meninggalkan wilayah utara untuk menghindari serangan, tak memengaruhi keluarga Abu Shahla. Mereka menetap di Kota Gaza, tak peduli dengan serangan bom dan tank pasukan Zionis.
Keluarga Abu Shahla tetap bertahan meski pasukan Israel menggelar operasi darat di lingkungannya. Tentara dan tank-tank Israel hilir mudik di sekitar tempat tinggal mereka. Tank-tank Israel menguasai jalan-jalan kota terbesar di Jalur Gaza itu.
Awalnya keluarga Abu Shahla, terdiri atas 20 anggota keluarga, menetap di rumah. Namun karena pengeboman terus menerus dalam serangan pada Oktober, tembok rumah nyaris ambruk. Mereka pun memutuskan pindah ke kamar apartemen milik kerabat lainnya masih di Kota Gaza.
“Kakek-nenek saya terpaksa meninggalkan rumah dan harta benda pada 1948,” kata anggota keluarga, Amal (24), merujuk pada perisiwa Nakba yakni pengusiran sekitar 750.000 warga Palestina.
Amal melanjutkan, meninggalkan rumah itu berarti pengulangan peristiwa 1948. Semua harta benda mereka ludes dan terpaksa ditinggalkan begitu saja.