Kematian George Floyd Picu Kemarahan Global, Presiden Ghana Sindir Demokrasi di AS

Anton Suhartono
George Floyd (Foto: AP)

Demonstran di Australia juga membandingkan kasus Floyd dengan tewasnya David Dungay, seorang pria Aborigin berusia 26 tahun yang meninggal di penjara Sydney pada 2015.

Unjuk rasa juga pecah di Den Haag, Belanda, serta kota besar lain di Selandia Baru dan Israel. Di Israel massa juga mengaitkan dengan pembunuhan pria asal Ethiopia oleh polisi pada tahun lalu.

Sementara itu diplomat senior Uni Eropa Josep Borrell mengatakan kematian Floyd disebabkan oleh penyalahgunaan kekuasaan.

"Seperti rakyat Amerika, kami terkejut dengan kematian George Floyd," kata Borrell, seperti dikutip dari VOA, Rabu (3/6/2020).

Namun dia tetap mengecam demonstrasi yang diwarnai kerusuhan. Borrell menekankan Eropa mendukung hak bagi demonstrasi damai dan mengutuk kekerasan serta rasisme dalam bentuk apa pun.

Para pemimpin Afrika juga mengecam kematian Floyd. Presiden GhanaNana Akufo Addo menyindir AS sebagai negara demokrasi.

“Ada yang tidak benar jika pada abad ke-21 ini, Amerika yang katanya benteng besar demokrasi, masih bergelut terus dengan masalah rasisme yang sistemik,” tuturnya.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
14 hari lalu

Momen Langka! Shandy Aulia Ketemu Anna Wintour di Dior Haute Couture Paris

25 hari lalu

Trump Ancam Tarif 100 Persen untuk Negara Eropa yang Pajaki Raksasa Teknologi AS

27 hari lalu

Tragis! 3 Anak Meninggal Dunia akibat Suhu Panas Ekstrem di Paris

27 hari lalu

Paris Diserang Suhu Panas Ekstrem, Pasien RS Melonjak Tajam!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal