Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan serangan itu bertujuan menimbulkan kerugian besar terhadap kemampuan militer Iran.
"Agresi yang ditunjukkan Iran tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata," demikian pernyataan Centcom, dikutip Rabu (8/7/2026).
Media Iran melaporkan ledakan terdengar di Kota Sirik di Pulau Qeshm dan Bandar Abbas. Serangan disebut menghantam dermaga komersial di Sirik serta dermaga perikanan di Sirik dan Bandar Abbas.
Seorang pejabat AS yang dikutip Reuters mengatakan sasaran operasi meliputi sistem pertahanan udara Iran, sistem pengawasan pantai, gudang rudal permukaan ke udara, rudal jelajah antikapal, serta lokasi peluncuran drone.
Ketegangan pasca-penandatanganan MoU Islamabad terus berpusat di Selat Hormuz. Iran sebelumnya menyerang kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut dengan alasan kapal-kapal itu tidak memiliki izin.
Selain melancarkan serangan militer, AS juga mencabut izin ekspor minyak Iran yang sebelumnya diberikan berdasarkan MoU Islamabad, kesepakatan sementara yang mengakhiri perang kedua negara sejak 28 Februari.
Departemen Keuangan AS mencabut izin ekspor minyak Iran yang sebelumnya berlaku sejak 22 Juni hingga 21 Agustus. Washington memberikan tenggat hingga 17 Juli bagi Iran untuk menyelesaikan pesanan yang telah ada dan menghentikan seluruh transaksi minyak.