Kamboja Senang Kena Tarif 19%, Bilang ke Trump Cuma Bisa Beli 10 Pesawat Boeing

Anton Suhartono
Sun Chanthol mengungkapkan rasa lega sekaligus terima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas kebijakan tarif 19 persen. (Foto: Khmer Times)

Industri Padat Karya Jadi Taruhan

Sektor manufaktur tekstil dan alas kaki Kamboja mempekerjakan hampir 1 juta buruh, mayoritas perempuan, yang menghidupi hingga lima anggota keluarga per rumah tangga. 

Tanpa kelonggaran tarif, kata Chanthol, dampaknya bisa sangat besar bagi jutaan warganya.

“Kalau tarif tetap tinggi, industri kami runtuh, dan akan terjadi pengangguran massal,” tuturnya.

Surplus Dagang Besar, Tapi Daya Beli Terbatas

Ekspor Kamboja ke pasar AS pada 2024 mencapai hampir 10 miliar dolar AS atau 37,9 persen dari total ekspor nasional. Mayoritas berupa tekstil dan sepatu. Namun di balik angka ekspor yang tinggi, Chanthol mengakui daya beli negaranya masih terbatas.

Pendekatan Kamboja dalam negosiasi dengan AS disebut Chanthol sebagai meletakkan semua kartu di atas meja. Baginya, kejujuran dan iktikad baik adalah kunci agar kedua negara dapat memperoleh manfaat bersama dari kerja sama dagang.

“Ini bukan soal siapa menang. Ini soal memastikan kedua pihak mendapatkan sesuatu yang berarti. Kami hanya minta kesempatan untuk bertahan,” tuturnya.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
Internasional
22 jam lalu

Kilang Minyak AS di Lousiana Meledak, Penyebab Masih Misterius

Internasional
24 jam lalu

Konflik AS-Iran Pecah Lagi, Trump: Iran Permainkan Kita!

Internasional
1 hari lalu

Mengejutkan, Sebagian Besar Warga Spanyol Yakin AS-Israel Kalah Perang Lawan Iran

Internasional
1 hari lalu

Breaking News: Trump Umumkan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina 3 Hari

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal