Jumlah Pembelot Menurun Drastis Sejak Kim Jong Un Berkuasa di Korut

Nathania Riris Michico
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. (Foto: AFP)

China menganggap para pembelot sebagai migran ilegal, bukan pengungsi dan kerap memulangkan mereka secara paksa.

Hubungan antara Korut dan Korsel, yang secara teknis masih berperang, meruncing dalam beberapa bulan terakhir.

Pada 18 September, pemimpin kedua Korea bertemu di Pyongyang untuk melakukan pembicaraan yang terpusat pada negosiasi denuklirisasi yang mandek.

Pertemuan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Kim Jong Un bertemu di Singapura pada Juni lalu. Saat itu mereka sepakat bekerja sama menciptakan semenanjung Korea yang bebas nuklir.

Namun pada Sabtu (29/9/2018), Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho menyalahkan sanksi AS. Menurutnya, sanksi yang tetap dijatuhkan AS atas Korut menyebabkan tidak ada kemajuan dalam kesepakatan.

"Tanpa kepercayaan di AS, tidak akan ada kepercayaan dalam keamanan nasional kita dan dalam keadaan seperti itu, tak ada cara lain, kami akan melucuti diri kita terlebih dahulu," kata Ri, dalam pidatonya di Sidang Umum PBB.

Editor : Nathania Riris Michico
Artikel Terkait
Nasional
6 hari lalu

Prabowo Tiba di Istana Korsel, Disambut Pelukan Hangat Presiden Lee Jae-myung

Internasional
9 hari lalu

Korea Utara Uji Coba Mesin Rudal Baru, Bisa Jangkau AS Bawa Hulu Ledak Lebih Banyak

Internasional
12 hari lalu

Bela Iran, Kim Jong Un Sebut AS Negara Teroris Agresor Singgung Senjata Nuklir

Internasional
12 hari lalu

Kim Jong Un Sebut Perang Iran Bukti Korea Utara Tepat Pertahankan Nuklir, Tolak Rayuan AS

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal