Setelah mendapatkan kepercayaan luas di China, Sinopharm yang memiliki dua laboratorium biosecurity di Wuhan dan Beijing itu kemudian berupaya meningkatkan kapasitas produksinya dari 12 juta dosis menjadi 1 miliar dosis dalam satu tahun.
Sementara, Sinovac masih belum mengantongi izin edar di China (setidaknya sampai tulisan ini diturunkan), karena harus menunggu hasil uji klinis tahap ketiga di Brasil, Turki, dan Indonesia. Walau begitu Sinovac juga telah digunakan secara terbatas untuk keperluan darurat di tiga kota di Provinsi Zhejiang, yakni Yiwu, Jiaxing, dan Shaoxing.
Di China, sebenarnya bukan Sinopharm dan Sinovac saja, namun ada institusi lain, seperti CanSino yang sama-sama mengembangkan vaksin Covid-19. Namun, sampai sekarang memang baru Sinopharm yang sudah mendapatkan izin edar resmi secara terbatas.
Beberapa negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain juga menggunakan produk Sinopharm.
Sinovac dipilih Indonesia karena yang pertama dan paling rajin mengajukan penawaran. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah, kesedian Sinovac untuk mentransfer teknologi vaksin kepada Biofarma, mitranya di Indonesia.