“Bennett menentang negara Palestina. Dia juga yakin dengan (rencana) pencaplokan semua pemukiman. Itu sebabnya kami tidak optimis,” kata seorang pejabat kepada The Jerusalem Post.
Bahkan pengacara yang juga penulis Palestina, Ibrahim Shaaban, memprediksi koalisi baru akan bernuansa lebih sayap kanan ketimbang pemerintahan Netanyahu.
Menurut Shaaban, orang-orang dalam koalisi yakni pemimpin partai Yisrael Beytenu Avigdor Liberman, pemimpin Partai Harapan Baru Gideon Sa'ar, termasuk Bennett lebih kanan daripada Netanyahu.
“Mereka tidak akan meninggalkan kebijakan Netanyahu. Mereka bahkan mungkin mencoba menjadi lebih ekstrem darinya untuk membantah tuduhan bahwa mereka moderat atau berafiliasi dengan sayap kiri.
Sentimen serupa disampaikan warga di Jalur Gaza.
"Tidak ada perbedaan antara satu pemimpin Israel dengan yang lain. Mereka baik atau buruk itu bagi bangsa mereka. Bagi kami, mereka semua jahat dan menolak untuk memberikan hak dan tanah kepada warga Palestina," kata Ahmed Rezik (29), seorang pegawai negeri.
Hamas, selaku pejuang yang menguasai Jalur Gaza, menyatakan, tidak ada bedanya siapa yang memerintah Israel.
“Palestina telah menyaksikan puluhan pemerintahan Israel sepanjang sejarah, kanan, kiri, tengah, begitu mereka menyebutnya. Tapi mereka semua menjadi musuh ketika menyangkut hak-hak rakyat Palestina dan memiliki kebijakan ekspansionisme yang bermusuhan,” kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem.