Saudara Tamatea sebelumnya diketahui terbunuh dalam perkelahian dengan suku lain.
Saat berduka, Tamatea memainkan serulingnya sebagai bentuk penghormatan kepada saudaranya. Suku asli Selandia Baru pun ternyata ingin turut memberikan tanda penghormatan kepada Tamatea atas kesetiaan yang diberikan tersebut dengan mengabadikan peristiwa itu menjadi sebuah nama wilayah.
Dari sanalah, tercetus Taumatawhakatangihangakoauauotamateaturipukakapikimaungahoronukupokaiwhenuakitanatahu sebagai nama kota, di mana bukit tempat Tamatea bermain seruling berasal.
Secara harfiah, nama tersebut memiliki arti 'puncak di mana Tamatea, pria dengan lutut besar, gagah, pendaki gunung, penakluk bukiy tengah memainkan seruling untuk orang yang dicintainya'.
Namun karena terlalu panjang, penduduk setempat sering menyebut kota ini dengan nama Tamatea atau Bukit Tamatea.
Selain itu, terdapat pula nama lain dari kota ini yang tak kalah panjang dan terdiri dari 105 karakter. Nama itunadalah Taumata-whakatangihanga-koauau-o-Tamatea-haumai-tawhiti-ure-haea-turi-pukaka-piki-maunga-horo-nuku-pokai-whenua-ki-tana-tahu.
Dengan segala keunikannya, kota tersebut berhasil memecahkan rekor Guiness World Record sebagai nama kota paling panjang di dunia.