Meski para pemimpin senior Hamas selamat, serangan tersebut menewaskan lima orang. Mereka adalah Humam, putra pemimpin Hamas Khalil Al Hayya; ajudannya; tiga pengawal; serta seorang pejabat keamanan Qatar yang ikut dalam pertemuan itu.
“Penembakan itu begitu intens, situasinya mengerikan, dan roket-roket terus berjatuhan tanpa henti. Ada sekitar 12 roket dalam waktu kurang dari 1 menit, tetapi atas ketetapan Allah, kami selamat dari agresi ini,” ujarnya.
Serangan Guncang Negosiasi
Hamad menegaskan, serangan Israel di Doha semakin memperlihatkan bahwa Amerika Serikat tidak layak dipercaya sebagai mediator perdamaian. Baginya, gencatan senjata yang ditawarkan AS hanyalah manuver politik yang tidak berpihak pada Palestina.
“Soal gencatan senjata, kami punya pengalaman pahit. Amerika tidak memiliki kredibilitas sebagai mediator yang jujur. Terlebih setelah serangan ke Doha,” katanya.
Terkait ancaman Trump terhadap Hamas, Hamad menegaskan pihaknya tak gentar. Ia menolak tuduhan soal penyanderaan brutal terhadap tawanan Israel.
“Dia (Trump) tidak membuat kami takut. Tawanan diperlakukan sesuai nilai-nilai Islam. Justru Israel yang membuat mereka dalam situasi berbahaya lewat serangan-serangan brutalnya,” tegas Hamad.