Para pejabat AS diam-diam berusaha membujuk Arab Saudi selaku mitra terbesarnya di Timur Tengah agar menolak gagasan pengurangan produksi minyak tersebut. Akan tetapi, penguasa de fakto Arab Saudi, Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman (MBS), tidak terpengaruh oleh bujukan Washington itu.
Menurut seorang sumber, MBS dan Biden sempat terlibat perselisihan selama kunjungan Biden ke Jeddah pada Juli lalu. Perselisihan itu muncul lantaran presiden AS itu mengungkit-ungkit kembali kematian jurnalis Washington Post, Jamal Khashoggi.
Intelijen AS mengatakan, MBS menyetujui operasi untuk menangkap atau membunuh Khashoggi. Sebelumnya, Khashoggi adalah “orang dalam” di lingkungan penguasa Saudi. Namun, belakagnan dia berubah haluan menjadi kritikus pemerintah. Wartawan itu lalu dibunuh dan dimutilasi oleh para agen Saudi di dalam kawasan Konsulat Kerajaan Arab Saudi di Istanbul, Turki pada 2018.
Pangeran MBS telah membantah tuduhan yang menyebut dirinyalah yang memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Akan tetapi, putra Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud itu lalu mengakui bahwa pembunuhan itu terjadi di bawah pengawasannya. Saat bertemu di Jeddah pada Juli lalu, Biden memberi tahu MBS bahwa bahwa sang pangeran mesti bertanggung jawab.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, pada Selasa (11/10/2022) mengatakan, dalam meninjau ulang hubungan dengan Riyadh, Washington DC tidak akan mengabaikan Iran, musuh bebuyutan AS yang juga saingan berat Arab Saudi di kawasan Timur Tengah. Menurut dia, sebagian besar penjualan senjata AS ke Arab Saudi tetap dilakukan dengan mempertimbangkan ancaman Iran di kawasan itu.
“Ada tantangan keamanan, beberapa di antaranya berasal dari Iran. Tentu saja, kami tidak akan mengabaikan ancaman yang ditimbulkan Iran tidak hanya di kawasan itu, tetapi dalam beberapa hal di luar itu,” kata Price.