Namun, penelitian sebelumnya juga pernah menunjukkan hasil Covid-19 dapat menginfeksi organ reproduksi pria, merusak perkembangan sel sperma, dan mengganggu hormon reproduksi. Reseptor yang sama yang digunakan virus untuk mengakses jaringan paru-paru juga ditemukan di testis.
“Efek pada sel sperma ini dikaitkan dengan kualitas sperma yang lebih rendah dan potensi kesuburan yang berkurang. Meskipun efek ini cenderung membaik dari waktu ke waktu, namun secara signifikan lebih tinggi dirasakan oleh pasien Covid-19,” kata Maleki dalam penelitiannya.
Maleki menuturkan, sistem reproduksi pria merupakan jalur yang rentan terhadap infeksi Covid-19, dan dinyatakan sebagai organ berisiko tinggi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sebagian ahli lain yang tidak terlibat dalam penelitian ini menyambut baik hasil studi tersebut. Namun, masih diperlukan lebih banyak penelitian lebih lanjut sebelum menarik kesimpulan pasti terkait pengaruh Covid terhadap reproduksi manusia.
“Pria seharusnya tidak perlu terlalu khawatir. Saat ini belum ada bukti pasti kerusakan jangka panjang yang disebabkan oleh Covid-19 pada sperma atau reproduksi pria,” kata Direktur Embriologi pada CARE Fertility Group di Inggris, Alison Campbell.