"Tugas saat ini ada di dua bidang, yakni memperbaiki apa yang gagal dalam beberapa pekan terakhir sebelum gelombang panas berikutnya melanda dan membangun sistem kesehatan yang tidak hanya merespons panas ekstrem tetapi juga siap menghadapinya," kata Kluge, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (10/7/2026).
Kluge juga menyoroti masih banyak kelompok rentan yang belum terlindungi secara optimal, seperti penghuni panti jompo, tunawisma, dan para lansia yang hidup dalam kondisi terisolasi secara sosial di berbagai negara Eropa.
Menurut para ahli, gelombang panas yang melanda Eropa pada periode 20-28 lalu merupakan salah satu yang paling parah dalam sejarah pencatatan. Cuaca ekstrem tersebut menyebabkan gangguan pada pembangkit listrik, merusak berbagai infrastruktur, serta memberikan tekanan besar terhadap sistem layanan kesehatan.
Selama periode itu, suhu udara di sejumlah negara Eropa menembus angka 40 derajat Celsius, memicu berbagai dampak serius bagi masyarakat maupun layanan publik. Dengan prakiraan suhu yang terus meningkat hingga 43 derajat Celsius, WHO mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi gelombang panas berikutnya.