Elite Taliban Dikabarkan Terbelah, Ada Faksi Moderat dan Konservatif?

Ahmad Islamy Jamil
Para anggota Taliban mengambil alih Istana Presiden Afghanistan di Kabul, 15 Agustus 2021. (Foto: AP)

Baradar menjabat sebagai pemimpin juru runding Taliban selama negosiasi antara kelompok itu dan Amerika Serikat. Perundingan itu pula yang akhirnya membuka jalan bagi penarikan pasukan AS dari Afghanistan—yang rampung pada akhir Agustus lalu, atau dua minggu setelah Taliban menyerbu Ibu Kota Kabul.

Tak lama setelah pengambilalihan Kabul, Baradar menjadi pejabat senior Taliban pertama yang menawarkan kemungkinan pembentukan pemerintah yang inklusif, yang akan menampung kepentingan semua kelompok di negara itu. Akan tetapi, tawaran Baradar itu dikandaskan oleh keputusan Taliban yang menunjuk semua menteri dari kalangan laki-laki dan dari etnik tertentu saja, pekan lalu.

Sebelum itu, Baradar juga sempat dikabarkan sebagai kandidat kuat presiden yang baru di Afghanistan. Namun, lagi-lagi rumor itu dipatahkan. Dia hanya kebagian jatah wakil perdana menteri. Sementara, Mullah Mohammad Hasan Akhund—sosok yang kurang begitu populer selama ini—diangkat menjadi perdana menteri.

Terpilihnya Akhund dianggap sebagai tanda lebih lanjut bahwa faksi konservatif yang berhaluan keras di tubuh Taliban telah memenangkan pertarungan internal. Sebagai indikasi lainnya, bendera putih Taliban kini dikibarkan di atas Istana Presiden di Kabul, menggantikan bendera nasional Afghanistan.

Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, membantah adanya keretakan dalam kepemimpinan di kelompok itu. Pada Selasa (14/9/2021) lalu, Menteri Luar Negeri Taliban, Amir Khan Mutaqi, juga membantah laporan semacam itu dan menyebutnya sebagai propaganda pihak luar saja.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Melunak, Trump Tiba-Tiba Bilang Ingin Bertemu Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei

57 tahun lalu

Trump Jagokan Wapres JD Vance-Menlu Rubio Maju Pilpres AS 2028: Mereka Tak Terkalahkan!

57 tahun lalu

DPR AS Sahkan Resolusi Batasi Wewenang Trump dalam Perang Iran

57 tahun lalu

Kuwait Tegaskan Tak Izinkan Negara Mana pun Gunakan Wilayahnya Serang Iran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal