JAKARTA, iNews.id - Umat Islam di berbagai negara bersiap menjalankan puasa Ramadan 1447 Hijriah. Tahun ini, durasi puasa di sejumlah negara belahan bumi utara terbilang lebih singkat, bahkan ada yang hanya sekitar 11 jam. Fenomena ini dipengaruhi oleh posisi Ramadan yang bertepatan dengan musim dingin di wilayah tersebut.
Penentuan awal Ramadan berbeda-beda, yakni 18 atau 19 Februari 2026, bergantung hasil pengamatan hilal di masing-masing negara. Perbedaan waktu pelaksanaan juga berdampak pada panjang pendeknya durasi puasa karena ditentukan oleh waktu terbit dan terbenam matahari.
Dipengaruhi Musim Dingin
Sebagian besar penduduk dunia, sekitar 90 persen, tinggal di belahan bumi utara. Pada Ramadan tahun ini, kawasan tersebut masih berada dalam periode musim dingin menuju akhir. Saat musim dingin, durasi siang hari lebih pendek dan malam lebih panjang.
Akibatnya, waktu antara terbit fajar hingga matahari terbenam juga lebih singkat. Inilah yang membuat durasi puasa di sejumlah negara Eropa, termasuk Rusia, hanya berkisar 11 hingga 13 jam pada hari-hari awal Ramadan.
Beberapa negara dengan durasi puasa terpendek antara lain:
1. Prancis (Paris) - 11 jam 33 menit
2. Islandia (Reykjavik) – 11 jam 42 menit
3. Denmark/Greenland (Nuuk) – 11 jam 42 menit
4. Finlandia (Helsinki) – 11 jam 44 menit
5. Rusia (Moskow) – 11 jam 44 menit.
Durasi ini jauh lebih pendek dibandingkan Ramadan yang jatuh pada musim panas, ketika siang hari bisa berlangsung sangat panjang di wilayah utara.