Menurut studi tersebut, penurunan angka bunuh diri di Jepang pada periode Februari-Juni 2020 dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait dengan penanganan wabah Covid-19, seperti subsidi pemerintah, berkurangnya jam kerja, dan penutupan sekolah.
Namun, penurunan itu berbalik pada bulan-bulan berikutnya. Tingkat bunuh diri di negeri samurai melonjak 37 persen pada kelompok perempuan. Jumlah itu sekitar lima kali lipat tingkat bunuh diri di kalangan pria Jepang.
Menurut riset tersebut, kenaikan angka bunuh diri itu disebabkan pandemi berkepanjangan telah mengoyak-ngoyak industri yang didominasi perempuan. Di samping itu, pandemi juga meningkatkan beban psikis pada kaum ibu yang bekerja, sementara pada saat yang sama kekerasan dalam rumah tangga juga terus meningkat.
Studi yang disusun berdasarkan data Kementerian Kesehatan dari November 2016 hingga Oktober 2020 itu juga menemukan bahwa tingkat bunuh diri anak di Jepang melonjak 49 persen pada gelombang kedua pandemi virus corona. Fenomena itu terjadi seiring dengan periode pascapenutupan sekolah secara nasional.
Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, pada bulan ini menyatakan keadaan darurat Covid-19 untuk Tokyo dan tiga prefektur sekitarnya. Langkah itu sebagai upaya untuk membendung kebangkitan kembali wabah virus corona.