“Para mujahid kemarin menyasar, sebuah drone MQ-9 milik pendudukan Amerika,” klaim kelompok itu dalam sebuah pernyataan, Jumat (19/1/2024).
Menurut catatan Departemen Amerika Serikat (Pentagon), pasukan AS dan sekutunya di Irak dan Suriah telah terkena 140 serangan sejak pertengahan Oktober lalu. Banyak di antaranya diklaim oleh Pasukan Perlawanan Islam di Irak. Washington DC telah melakukan serangan balasan di kedua negara tersebut.
Pada 4 Januari, serangan AS di pusat kota Baghdad menewaskan seorang komandan pro-Iran yang disebut-sebut terlibat dalam serangan terhadap pasukan Amerika. Tindakan AS itu membuat Pemerintah Irak murka. Pasalnya, Washington dianggap telah melanggar kedaulatan negara Arab itu.
Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani, menyerukan agar koalisi militer internasional pimpinan AS melawan ISIS segera meninggalkan Negeri Seribu Satu Malam itu.
Sementara Juru Bicara Pentagon Mayor Jenderal Pat Ryder pada Selasa (16/1/2024) lalu mengatakan bahwa Amerika akan terus berkonsultasi secara dekat dengan Irak. Namun, dia mengaku tidak mengetahui adanya “permintaan resmi dari Pemerintah Irak” agar pasukan AS meninggalkan negara itu.
Amerika Serikat memiliki sekitar 2.500 tentara di Irak dan 900 personel di Suriah sebagai bagian dari koalisi anti-ISIS.