Laporan awal sempat mengungkap, para pelaku merampas rompi antipeluru dan senjata, termasuk dua pistol dan senapan serbu AKM. Namun berdasarkan penelusuran, senjata-senjata itu ditemukan di mobil patroli yang dibakar.
Setidaknya 17 warga sipil tewas dan 30 lainnya luka-luka dalam bentrokan antara demonstran dengan petugas Kepolisian Nasional Peru (PNP) di dekat bandara setempat.
Sebagai ungkapan kemarahan para demonstran, mereka menulis peti mati korban dengan, "Dina membunuh saya dengan peluru." Dina merujuk pada penjabat presiden Peru, Dina Boluarte.
Menteri Dalam Negeri Peru Victor Rojas menjelaskan, petugas terpaksa melepaskan tembakan ke massa yang berjumlah sekitar 9.000 orang karena berusaha menggeruduk bandara. Menurut Rojas, massa menyerang polisi menggunakan berbagai macam senjata bahkan bahan peledak.
"Mustahil untuk mengendalikan massa,” kata Rojas, seraya menuduh demonstran sengaja membuat kekacauan.
Demonstrasi di Peru dipicu penggulingan dan penangkapan Presiden Castillo pada 7 Desember, setelah mencoba membubarkan Kongres dan mengadakan pemilihan umum dini. Anggota parlemen menuduh Castillo melakukan pemberontakan serta mempromosikan wakilnya, Boluarte, sebagai pengganti. Para pendukung Castillo menganggap penggulingan itu sebagai kudeta terhadap demokrasi.