Kementerian Pertahanan Israel menyatakan pada 26 Agustus lalu, sejak 7 Oktober AS telah mengirim pesawat ke-500 yang membawa persenjataan dalam operasi membantu perang. Jika ditotal, pemerintahan Biden telah mengirim Israel lebih dari 50.000 ton peralatan militer, baik yang bersifat ofensif maupun defensif.
Selain pasokan udara, AS juga melakukan 107 pengiriman pasokan militer melalui laut.
Media AS melaporkan, pemerintahan Biden diam-diam melakukan lebih dari 100 penjualan militer ke Israel, sebagian besar memiliki nilai di bawah yang mengharuskan Kongres mendapat pemberitahuan resmi. Penjualan tersebut mencakup ribuan amunisi berpemandu presisi, bom berdiameter kecil, penghancur bunker, dan senjata ringan.
Masih dari data SIPRI, Jerman merupakan eksportir senjata terbesar kedua ke Israel, menyumbang 30 persen dari total impor untuk periode 2019 hingga 2023. Pada 2023, penjualan senjata Jerman ke Israel bernilai 326,5 juta euro atau sekitar Rp5,6 triliun, naik 10 kali lipat dibandingkan pada 2022. Sebagian besar lisensi ekspor tersebut diberikan setelah perang 7 Oktober.
Pemerintah Jerman pada Januari lalu menjelaskan, penjualan tersebut meliputi peralatan militer senilai 306,4 juta euro dan senjata perang senilai 20,1 juta euro. Penjualan tersebut meliputi 3.000 senjata anti-tank portabel dan 500.000 butir amunisi untuk senjata api otomatis atau semi-otomatis.