Sebagai perbandingan, laporan tersebut menyatakan bahwa biaya membesarkan anak di Australia hanya 2,08 kali PDB per kapita. Sementara di Prancis, biayanya adalah 2,24 kali dan di Amerika Serikat 4,11 kali PDB per kapita. Biaya membesarakan anak di Jepang—yang juga menghadapi masalah penurunan angka kelahiran—bahkan masih jauh lebih murah daripada China, yaitu 4,26 kali PDB per kapita.
“Karena alasan-alasan seperti tingginya biaya melahirkan anak dan kesulitan bagi perempuan untuk menyeimbangkan keluarga dan pekerjaan, keinginan masyarakat China untuk memiliki anak hampir merupakan yang terendah di dunia,” kata laporan itu.
“Tidak berlebihan jika menggambarkan situasi kependudukan (China) saat ini sebagai penurunan jumlah kelahiran,” tulis YuWa.
Populasi China telah menyusut selama dua tahun terakhir. Pada 2023, angka kelahiran di sana mencapai level terendah sejak berdirinya Republik Rakyat China (China) pada 1949. Tahun lalu, China juga disalip oleh India sebagai negara dengan jumlah penduduk terpadat di dunia.
Krisis demografi memberikan dampak yang signifikan bagi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Sejak 2016, pihak berwenang China sudah berupaya membalikkan tren tersebut setelah beberapa dekade menerapkan “kebijakan satu anak”. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada kabar yang membahagiakan terkait pertumbuhan populasinya.