DAMASKUS, iNews.id - Suriah dan Prancis pada 7 Juni menyepakati pertukaran duta besar (dubes) setelah terhenti selama 14 tahun atau selama kekuasaan rezim Bashar Al Assad.
Presiden Suriah Ahmad Al Sharaa menyampaikan kesepakatan itu dalam konferensi pers bersama mitranya dari Prancis, Emmanuel Macron, di Damaskus.
Sharaa menyebut kunjungan Macron sebagai tonggak sejarah menandai periode kerja sama yang damai dan mendalam antara kedua negara.
"Ini adalah kunjungan pertama presiden Prancis dalam 18 tahun. Kami mengumumkan kesepakatan untuk pertukaran duta besar antara Damaskus dan Paris," kata Sharaa, seperti dikutip dari Anadolu.
Prancis menutup kedutaannya di Damaskus pada Maret 2012, saat masih di bawah pemerintahan Presiden Nicolas Sarkozy. Saat itu Suriah melakukan penindasan terhadap demonstran oleh rezim Bashar Al Assad.