Masih meniru Tarrant, pelaku juga menyiapkan dua dokumen yang akan disebarkan sebelum serangan, satu sebagai pesan kepada rakyat Prancis untuk melawan muslim dan kedua sebagai manifesto yang menjelaskan kebenciannya terhadap Islam.
Isi manifesto itu banyak mencontoh dari milik Tarrant dan menyebutnya sebagai orang suci dan serangan Christchurch sebagai aksi pembunuhan terhadap muslim yang dibenarkan.
"Perencanaan dan persiapan terperinci membuktikan tekad pemuda untuk menindaklanjuti rencana serangannya," kata ISD, seperti dikutip dari The Straits Times.
Hasil penyelidikan sementara ISD, remaja itu bertindak sendiri. Tidak ada indikasi dia mencoba memengaruhi orang lain dengan pandangan ekstrimnya atau melibatkan orang lain dalam serangan.
Keluarga serta teman-teman dekat pelaku juga tidak mengetahui rencana serangan. Bukan hanya itu, selama ini remaja tersebut tak menunjukkan punya rasa kebencian yang tinggi terhadap Islam.