Diketahui, Iran mengumumkan selat tersebut ditutup setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari. Penutupan Selat Hormuz mengganggu pelayaran dan menaikkan harga minyak.
Serangan telah menghantam beberapa kapal di daerah tersebut sejak saat itu, beberapa di antaranya diklaim oleh Iran.
Pada Selasa (10/3/2026), Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi membantah Iran memasang ranjau di selat tersebut.
Dalam pernyataannya, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengatakan pengaruh untuk memblokir Selat Hormuz harus terus digunakan.
AS mengklaim ranjau di wilayah tersebut telah merusak pelayaran, dan dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia dan perdagangan LNG melewati Selat tersebut. Aktivitas Iran tetap menjadi perhatian utama bagi militer dan badan intelijen AS.