“Selain pengumpulan data, alasan lain adalah untuk mengirim pesan kepada China dan Rusia bahwa kapal induk AS memiliki ketahanan super dan mereka tidak khawatir dengan senjata antikapal konvensional China atau Rusia,” kata Zhongping.
Dia menambahkan, bom seberat 18 ton jauh lebih besar daripada hulu ledak tunggal pada rudal atau torpedo konvensional.
China mengembangkan rudal balistik antikapal yang diklaim bisa melumpuhkan kapal induk, yakni DF-21D dan DF-26. Kedua rudal itu diklaim mengenai target secara bersamaan yang jaraknya ribuan kilometer, berdasarkan uji coba di Laut China Selatan pada Agustus.
Rusia juga telah menguji coba rudal jelajah hipersonik antikapal, Zircon, yang mampu melesat dengan kecepatan maksimum 9 Mach. Rudal itu mengenai target di darat dalam uji coba bulan lalu.
Menurut Song, uji coba terhadap USS Gerald R Ford menunjukkan kapal itu mampu bertahan dari serangan ranjau atau rudal berhulu ledak konvensional, namun belum diketahui kemampuannya dalam mempertahankan diri dari serangan lain.
“Rudal balistik atau rudal hipersonik juga bisa membawa senjata pulsa elektromagnetik yang diledakkan di ketinggian, menyebabkan kerusakan pada kapal induk atau bahkan melumpuhkan sepenuhnya dari pertempuran,” katanya.