"Kami menerima sekitar 40 pertanyaan mengenai pembatalan perjalanan pada Minggu saja," kata seorang staf agen travel yang meminta identitasnya dirahasiakan, seperti dikutip dari Yonhap.
Dia menambahkan jumlah pembatalan mencapai dua kali lipat daripada biasanya serta penurunan pemesanan tiket sebesar 50 persen.
Sumber di industri perjalanan dan pariwisata Korsel mengatakan masih memantau situasi ini dengan cermat. Dia mengkhawatirkan dampak lanjutan kecemasan publik terhadap keselamatan penerbangan yang terus meningkat. Dampaknya tak hanya dirasakan Jeju Air, tapi juga maskapai lainnya.
Satu lagi insiden terjadi pada Senin (30/12/2024) pagi. Pesawat Jeju Air model yang sama dengan unit yang mengalami kecelakaan, yakni Boeing 737-800, terpaksa putar balik ke bandara di Seoul karena kerusakan pada roda pendaratan.
Pesawat dengan nomor penerbangan 7C 101 itu mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Gimpo. Media lokal JoongAng Daily melaporkan, pesawat mengalami masalah yang sama dengan 7C 2216 setelah lepas landas pada pukul 06.37 waktu setempat untuk menuju Jeju. Pilot tak mau mengambil risiko sehingga memutuskan untuk return to base (RTB) dan mendarat dengan selamat di Gimpo pada pukul 07.25.
Jeju Air menyatakan, pilot mengumumkan kepada 161 penumpang melalui pengeras suara di kabin bahwa pesawat mengalami masalah mekanik pada roda pendaratan sehingga memutuskan untuk kembali.