Meski umumnya tidak menular antarmanusia, jenis Andes virus yang ditemukan di beberapa wilayah Amerika Selatan diketahui memiliki potensi penularan dari manusia ke manusia.
Gejala infeksi Andes virus meliputi demam, nyeri tubuh, kelelahan, gangguan pencernaan, hingga kesulitan bernapas. Dalam kondisi berat, penyakit dapat berkembang cepat menjadi syok hingga kematian.
Saat ini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk hantavirus. Penanganan dilakukan melalui perawatan suportif di rumah sakit sesuai kondisi pasien.
Profesor Ooi Eng Eong dari Duke-NUS Medical School menjelaskan, Hantavirus merupakan kelompok virus yang secara alami ditemukan pada hewan pengerat, termasuk tikus cokelat dan tikus hitam yang umum ditemukan di lingkungan perkotaan.
Menurut dia, virus tersebut dapat menular melalui makanan yang terkontaminasi, gigitan, maupun cakaran tikus. "Meski demikian, penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi," ujar Prof Ooi.
WHO mengimbau seluruh penumpang MV Hondius untuk memantau kondisi kesehatan masing-masing dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala mencurigakan.
Sebagai langkah pencegahan, CDA mengingatkan masyarakat yang bepergian ke wilayah dengan kasus hantavirus untuk menghindari kontak dengan tikus maupun area yang terkontaminasi kotoran hewan pengerat, menjaga kebersihan tempat tinggal, serta tidak membersihkan debu menggunakan sapu kering agar partikel berbahaya tidak beterbangan di udara.